Sejarah Desa Jono Purworejo: Jejak Pecinan dan Bedol Desa 1826
24 September 2026 15:02:50 / / Hits : 13 / Posted by Administrator
Sejarah Desa Jono Purworejo: Jejak Pecinan dan Bedol Desa 1826
Sejarah Komunitas Tionghoa di Selatan Kutoarjo pada Abad ke-18 dan Perang Diponegoro
Desa Jono, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menyimpan sebuah sejarah yang nyaris terlupakan. Desa yang sekarang terlihat sebagai perkampungan pedesaan biasa ini, pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19, pernah menjadi salah satu permukiman masyarakat Tionghoa yang penting di wilayah selatan Kutoarjo.
Sejarah Jono menjadi semakin menarik karena desa ini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan komunitas Tionghoa di pedalaman Jawa, tetapi juga dengan Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830) dan sebuah peristiwa pengungsian besar yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Bedol Desa Jono pada tahun 1826.
Menurut sejumlah sumber sejarah dan kesaksian keturunan masyarakat Tionghoa asal Jono, keberadaan orang Tionghoa di wilayah tersebut bahkan diperkirakan telah berlangsung sebelum Geger Pecinan 1740 di Batavia. Tradisi lisan dari keturunan Tionghoa Jono yang kemudian menetap di kawasan Parakan menyebut bahwa leluhur mereka telah berada di Jono sekitar tahun 1727.
Namun demikian, angka tahun tersebut merupakan tradisi lisan yang masih perlu dikaji lebih lanjut melalui arsip dan sumber sejarah primer.
________________________________________
Jono dan Perkembangan Pecinan di Pedalaman Jawa
Pada abad ke-18, komunitas Tionghoa tidak hanya berkembang di kota-kota pesisir Jawa. Sebagian dari mereka juga hidup di daerah pedalaman dan berperan dalam kegiatan perdagangan, pertanian, produksi tekstil, serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
Jono merupakan salah satu tempat yang memiliki posisi penting dalam jaringan tersebut.
Menurut cerita yang berkembang di kalangan keturunan Tionghoa Jono, masyarakat Tionghoa di desa ini antara lain bergerak dalam budidaya kapas dan pembuatan kain putih atau mori.
Kain tersebut kemudian berkaitan dengan perkembangan industri batik di wilayah Semawung/Kutoarjo, Yogyakarta dan Surakarta.
Dengan demikian, Jono bukan sekadar sebuah permukiman, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan ekonomi masyarakat pedalaman Jawa pada masa itu.
________________________________________
Dari Geger Pecinan Menuju Jono
Salah satu titik penting dalam sejarah masyarakat Tionghoa di Jawa adalah Geger Pecinan tahun 1740, ketika terjadi pembantaian besar terhadap masyarakat Tionghoa di Batavia.
Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi konflik yang lebih luas antara kelompok Tionghoa, kekuatan Mataram dan VOC.
Sebagian kelompok Tionghoa meninggalkan Batavia dan bergerak menuju wilayah Jawa Tengah. Mereka kemudian bergabung dengan berbagai kekuatan lokal yang menentang VOC.
Dalam perkembangan berikutnya, setelah konflik dan pemberontakan mereda pada pertengahan abad ke-18, sebagian masyarakat Tionghoa memilih menetap di berbagai wilayah pedalaman Jawa.
Salah satu lokasi yang kemudian berkembang sebagai permukiman Tionghoa adalah Jono.
Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di antara keturunan Tionghoa asal Jono, sebagian leluhur masyarakat Tionghoa di Parakan, Temanggung, Wonosobo dan wilayah sekitarnya memiliki hubungan genealogis dengan Jono.
Hal ini menjadikan sejarah Jono penting untuk melihat bagaimana komunitas Tionghoa bergerak dari wilayah pesisir menuju pedalaman Jawa dan kemudian membentuk komunitas baru.
________________________________________
Jono dalam Perang Diponegoro
Memasuki tahun 1825, Jawa memasuki salah satu konflik terbesar pada abad ke-19, yaitu Perang Jawa atau Perang Diponegoro.
Wilayah Bagelen menjadi salah satu kawasan penting dalam peperangan tersebut.
Jono memiliki posisi strategis karena berada di jalur yang menghubungkan wilayah sekitar Kutoarjo dengan daerah-daerah di sebelah barat, termasuk arah Banyumas.
Pada masa tersebut, masyarakat Tionghoa dari kawasan Semawung dan Brengkelan disebut berkumpul di Jono.
Jono dianggap sebagai tempat yang relatif aman karena terdapat pertahanan yang dibangun dari balok kayu, yang dalam tradisi lokal disebut menggunakan kayu glugu atau batang kelapa.
Pertahanan tersebut menjadikan Jono bukan sekadar sebuah desa, tetapi sebuah titik pertahanan dalam situasi perang yang semakin memburuk.
________________________________________
Pengepungan Jono
Pada tahun 1826, posisi Jono semakin terancam.
Pasukan pendukung Pangeran Diponegoro menyerang dan mengepung Jono. Menurut sumber yang dikutip dalam Tionghoa Merajut Keindonesiaan, pengepungan tersebut berlangsung sekitar dua bulan.
Penduduk Jono bertahan dalam kondisi yang semakin sulit.
Situasi menjadi lebih berat karena pasukan Belanda juga menghadapi tekanan besar di berbagai wilayah, termasuk Magelang.
Bantuan kemudian dikirim dari Magelang di bawah pimpinan Kolonel Cleerens.
Kedatangan pasukan bantuan tersebut memungkinkan pengepungan terhadap Jono untuk sementara dihentikan.
Namun keadaan belum benar-benar aman.
Pada bulan April dan Mei 1826, serangan terhadap Jono kembali meningkat.
________________________________________
Pertempuran dan Upaya Mempertahankan Jono
Dalam situasi tersebut, pasukan gabungan Belanda bersama penduduk Tionghoa Jono melakukan perlawanan terhadap pasukan pendukung Diponegoro.
Salah satu tokoh militer yang disebut dalam sumber tersebut adalah Mayor Perié.
Penduduk Jono berada dalam situasi yang sangat sulit. Mereka tidak hanya harus mempertahankan tempat tinggal, tetapi juga berusaha mempertahankan kehidupan sehari-hari dan lahan pertanian mereka.
Menurut kisah yang tercatat, ketika bantuan pasukan datang, penduduk Jono memperoleh kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan pertanian dan memanen sawah mereka.
Namun setelah pasukan bantuan kembali meninggalkan kawasan tersebut, keadaan kembali memburuk.
Jono semakin sulit dipertahankan.
________________________________________
27 Mei 1826: Bedol Desa Jono
Akhirnya, pada 27 Mei 1826, Mayor Perié mengambil keputusan untuk menarik diri bersama penduduk Jono.
Keputusan tersebut menjadi awal dari sebuah peristiwa yang sangat dramatis dalam sejarah desa ini:
Bedol Desa Jono.
Jalur Loano sudah dianggap tidak dapat digunakan karena berada dalam penguasaan pasukan Diponegoro.
Pilihan yang tersedia adalah jalur utara yang jauh lebih panjang dan berat, melewati kawasan perbukitan dan hutan lebat menuju Wadaslintang.
Sekitar 600 orang Tionghoa dari Jono meninggalkan desa mereka.
Mereka bukan sekadar mengungsi sementara.
Mereka meninggalkan rumah, tanah, sawah dan kehidupan yang telah mereka bangun selama beberapa generasi.
Menurut kisah yang berkembang, sebelum meninggalkan Jono, desa tersebut bahkan dibumihanguskan agar tidak dapat digunakan oleh pihak lawan.
________________________________________
Perjalanan 60 Kilometer Selama Empat Hari
Rombongan pengungsi bergerak dalam kondisi yang sangat berat.
Pasukan gabungan Jawa-Belanda mengawal mereka dari belakang.
Namun perjalanan tersebut tidak berlangsung dengan aman.
Rombongan terus mendapatkan gangguan dari pasukan pendukung Diponegoro.
Mereka berjalan melalui jalur yang panjang, berat dan melelahkan.
Dalam catatan yang dikutip dari karya P. J. F. Louw, rombongan tersebut akhirnya mencapai Kaliwiro setelah menempuh perjalanan sekitar 60 kilometer dalam empat hari.
Mereka tiba dalam keadaan sangat kelelahan.
Bayangkan perjalanan tersebut:
ratusan orang meninggalkan rumahnya,
berjalan kaki selama berhari-hari,
melewati hutan dan perbukitan,
sementara dari belakang masih terdapat ancaman serangan.
Bagi masyarakat Jono, perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat.
Itulah sebuah eksodus komunitas.
________________________________________
Jono yang Ditinggalkan
Menurut kisah yang berkembang, Mayor Perié pada awalnya merencanakan perjalanan menuju Merden, sekitar 20 kilometer di sebelah utara Jono.
Jalur tersebut lebih terbuka dan relatif lebih landai.
Namun rombongan terus dibuntuti.
Pada malam hari mereka harus beristirahat di tengah persawahan yang telah kering, sementara suara tembakan dan teriakan masih terdengar di sekitar mereka.
Pada 30 Mei 1826, rombongan mencapai sebuah jembatan yang kemudian disebut berada di wilayah Wonosobo.
Di tempat tersebut, rombongan akhirnya terpecah menjadi dua.
Satu kelompok melanjutkan perjalanan menuju Parakan.
Kelompok lainnya bersama Mayor Perié bergerak ke selatan menuju Magelang melalui Sapuran.
Sejak saat itulah kehidupan masyarakat Tionghoa Jono berubah untuk selamanya.
________________________________________
Jejak Jono di Parakan dan Pedalaman Jawa
Peristiwa Bedol Desa tersebut kemungkinan menjadi salah satu faktor penting dalam penyebaran keturunan masyarakat Tionghoa Jono ke berbagai wilayah Jawa Tengah.
Dalam cerita turun-temurun yang masih hidup di kalangan masyarakat Tionghoa di Parakan, Temanggung, Wonosobo dan Banjarnegara, Jono sering disebut sebagai salah satu daerah asal leluhur mereka.
Artinya, meskipun komunitas Tionghoa di Jono sendiri kemudian tidak lagi terlihat seperti pada masa lalu, jejak masyarakatnya mungkin masih dapat ditemukan melalui silsilah keluarga, nama leluhur, tradisi keluarga, dokumen lama, makam, serta cerita turun-temurun di berbagai daerah.
Jono dengan demikian bukan hanya memiliki sejarah lokal.
Ia dapat menjadi bagian dari sejarah yang lebih luas mengenai perpindahan masyarakat Tionghoa dari Batavia menuju pedalaman Jawa, hubungan mereka dengan masyarakat Jawa, serta terbentuknya jaringan komunitas Tionghoa di Jawa Tengah.
________________________________________
Mengapa Sejarah Jono Penting?
Hari ini Desa Jono tidak lagi dikenal sebagai sebuah Pecinan.
Tidak ada lagi komunitas Tionghoa dalam jumlah besar seperti yang diceritakan dalam sejarah abad ke-18 dan awal abad ke-19.
Namun kondisi tersebut justru membuat sejarah Jono semakin penting untuk dicatat.
Sebuah desa dapat berubah.
Penduduk dapat berpindah.
Rumah-rumah dapat hilang.
Benteng dapat runtuh.
Namun ingatan tentang sebuah komunitas dapat tetap hidup melalui cerita keturunannya.
Jono adalah salah satu contoh bagaimana sebuah desa kecil dapat menjadi saksi dari peristiwa besar dalam sejarah Jawa: Geger Pecinan, perkembangan komunitas Tionghoa di pedalaman, Perang Diponegoro, hingga perpindahan besar-besaran penduduknya pada tahun 1826.
________________________________________
Mencari Jejak yang Masih Tersisa
Sejarah Jono masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Beberapa hal yang sangat menarik untuk ditelusuri antara lain:
• lokasi pasti bekas permukiman Pecinan Jono;
• lokasi benteng atau pertahanan Jono tahun 1826;
• batu berinskripsi yang masih ditemukan di wilayah desa;
• makam-makam tua dan kemungkinan makam masyarakat Tionghoa;
• jalur pengungsian Jono menuju Kaliwiro, Sapuran, Magelang dan Parakan;
• arsip kolonial mengenai Jono tahun 1825–1826;
• hubungan keluarga keturunan Jono dengan komunitas Tionghoa di Parakan;
• serta kemungkinan adanya dokumen keluarga yang mencatat perpindahan dari Jono.
Penelitian semacam ini penting karena sejarah Jono tidak hanya merupakan sejarah sebuah desa, tetapi juga bagian dari sejarah hubungan masyarakat Jawa dan Tionghoa di pedalaman Jawa.
________________________________________
Sumber awal
P. J. F. Louw, De Java-Oorlog van 1825–1830, khususnya bagian mengenai peristiwa Jono dan pengungsian tahun 1826.
Tionghoa Merajut Keindonesiaan: Persembahan 80 Tahun Leo Suryadinata, editor Didi Kwartanada.
Kesaksian lisan keturunan masyarakat Tionghoa asal Jono, termasuk informasi yang diwariskan dalam komunitas keturunan Jono di Parakan dan sekitarnya.
Catatan sejarah: Tahun 1727 sebagai awal keberadaan masyarakat Tionghoa di Jono serta beberapa detail mengenai asal-usul kelompok pertama sebaiknya ditulis sebagai tradisi lisan/keterangan keluarga, kecuali nantinya ditemukan dokumen primer yang mengonfirmasinya. Demikian pula beberapa detail mengenai jalur perjalanan dan pembakaran desa perlu dibandingkan dengan arsip kolonial dan sumber sejarah lain sebelum dinyatakan sebagai fakta definitif.
Ditulis berdasarkan bahan sejarah dan cerita masyarakat yang Anda berikan, dengan penyusunan ulang agar lebih kronologis dan layak untuk publikasi.
Sumber : https://web.facebook.com/groups/purworejojamandulu/posts/2176084182551316/?_rdc=1&_rdr#

Tags : mengungkap sejarah desa jono, purworejo, sebagai bekas permukiman tionghoa di pedalaman jawa serta kisah bedol desa jono tahun 1826 pada masa perang diponegoro, sejarah desa jono purworejosejarah desa jono, desa jono purworejo, desa jono kecamatan bayan, sejarah jono kutoarjo, pecinan desa jono, sejarah tionghoa jono, komunitas tionghoa jono, bedol desa jono, bedol desa jono 1826, perang diponegoro di jono, perang diponegoro purworejo, sejarah tionghoa purworejo, sejarah kutoarjo, pecinan di jawa tengah, keturunan tionghoa jono, jono parakan, sejarah bagelen, sejarah purworejo
Berita Lainnya :